ahmad

ahmad
panglima

Rabu, 23 April 2014

MANAQIB SYAIKH MUHAMMAD ABDUL KARIM AS-SAMMAN

MANAQIB GHOUST ZAMAN AL AKWAN SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL KARIM SAMMAN
Peletak Dasar Tarekat Sammaniyah

Tarekat Sammaniyah meninggalkan banyak warisan kepada bangsa Indonesia, di antaranya Tari Samman, yang di dalamnya menggelora semangat berjihad melawan penjajah. 
Tarekat Sammaniyah adalah tarekat yang sangat terkenal di Indonesia. Pendirinya adalah Muhammad bin Abdul Karim Al-Madani Al-Syafi’i Al-Samman. Ia, yang lebih populer dipang­gil ”Syaikh Samman”, adalah seorang ulama besar dan sekaligus sufi.
Tarekat Sammaniyah muncul di Aceh, Sumatera Barat, Banten dan Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta beberapa kantung muslim di Indonesia. Tarekat ini meninggalkan banyak warisan kepada bangsa Indone­sia, di antaranya Tari Samman, yang di dalamnya menggelora semangat berji­had melawan penjajah.

Magnet bagi para Pencari Ilmu
Siapa sebenarnya Syaikh Samman? Dalam kitab manaqib Syaikh Al-Waliy Al-Syahir Muhammad Samman maupun hikayat Syaikh Muhammad Samman, di­sebutkan, pria alim ini lahir di Madinah dari keluarga Quraisy pada 1130/1718.

Masa Kanak-kanak 
Sejak kecil terdapat keganjilan dalam kehidupannya. Suatu ketika orangtuanya meng­hidangkan makanan untuk Syaikh Samman kecil di atas meja makan. Beberapa waktu kemudian, orangtuanya membuka tutup saji dan mendapatkan makanan itu utuh tak dimakan. Setiap kali orangtuanya menghidangkan ma­kanan untuknya, mereka selalu men­dapati makanan itu tak berkurang sedikit pun.Karena merasa kawatir dengan peri­laku anaknya tersebut,
 orangtuanya me­laporkan kepada guru yang mendidik anaknya. Guru itu menjawab, “Jangan khawa­tir, anakmu itu akan menjadi seorang wali.” Jika Syaikh Samman tidur dengan bantal empuk, ia selalu berkeluh kesah seperti orang sakit. Sementara ketika orangtuanya tidur, ia bangun tengah ma­lam dan mengambil air wudhu, sedang kala itu musim dingin di Madinah. Ia selalu shalat hingga datang waktu subuh.  Setelah shalat Subuh,  ia membaca ratib sampai matahari terbit. Kemudian ia shalat sunnah Isyraq. Menjelang siang hari, ia shalat Dhuha. Setiap hari ia berpuasa sunnah dan melakukan riyadhah. Rutinitas kegiatan ini dilakukan Syaikh Samman pada masa sebelum baligh. Semasa kanak-kanak ia belajar agama kepada para ulama yang berada di sekitar Madinah dan dalam usia delapan tahun ia sudah hafal Al-Qur’an.

 Masa Remaja
Ketika remaja dan setelah menjadi guru di Madrasah Sanjariyah Madinah, ia belajar hukum Islam kepada lima ulama fiqih terkenal: Muhammad Ad-Daqqaq, Sayyid Ali Al-Aththar, Ali Al-Kurdi, Abdul Wahhab Al-Thanthawi (di Makkah), dan Said Hilal Al-Makki. Ia juga pernah berguru kepada Muhammad Hayyat, seorang muhaddits dan pengi­kut Tarekat Naqsyabandiyah. Ketika mengaji kepada Muhammad Hayyat, ia bertemu murid lain yang ber­nama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Wahabbiyah.
Syaikh Samman juga berguru ke­pada Muhammad Sulaiman Al-Kurdi Al-Syafi’i (1125-1194/1713-1780), yang juga guru bagi sekelompok murid Me­layu-Indonesia pada abad ke-18. Mung­kin hal ini yang kemudian membentuk dirinya menjadi pengikut Madzhab Syafi’iyah. Ia juga berguru kepada Abu Thahir Al-Kurani, Abdullah Al-Bashri, dan Musthafa bin Kamaluddin Al-Bakri. Di antara gurunya itu, yang disebutkan terakhir ini rupanya yang paling menge­sankan. Musthafa Al-Bakri (1749), yang juga syaikh Tarekat Khalwatiyah, adalah guru untuk bidang tasawuf dan tauhid. Ia berasal dari Damaskus dan menjadi pengarang yang sangat produktif. Pada waktu muda, Syaikh Samman terpenga­ruh Tarekat Khalwatiyah dan karena itu­lah ia menambah ilmu dari dua guru Khalwatiyah, yaitu Muhammad bin Salim Al-Hifnawi dan Muhammad Al-Kurdi. Akhirnya Syaikh Samman membuka cabang Tarekat Khalwatiyah, tetapi ia memberikan nama tarekat itu ”Al-Muhammadiyah”, yang berarti jalan Nabi Muhammad SAW.
Gabungan antara Khalwatiyah dan Sammaniyah inilah yang kemudian me­narik para pengikut tarekat ini di Sula­wesi Selatan. Para pengikut Syaikh Yusuf Al-Makassari kini menamakan tarekatnya ”Khalwatiyah Sammaniyah”. Syaikh Yusuf sendiri adalah pengikut Tarekat Khalwatiyah. Sebenarnya Syaikh Samman tidak hanya belajar Tarekat Khalwatiyah, ia juga belajar tarekat lainnya, seperti Naq­syabandiyah, Qadiriyah, dan Syadza­liyah. Semua tarekat itu mempengaruhi tarekat yang kemudian didirikannya, yaitu Tarekat Sammaniyah.
Syaikh Samman lebih banyak tinggal di Madinah. Semula ia mengajar di Madrasah Sanjariyah dan kemudian menjadi penjaga makam Nabi Muham­mad SAW. Dua posisi ini menjadikan dirinya tokoh yang paling banyak ditemui kaum muslimin di seluruh dunia. Sebagai tokoh tarekat yang zuhud, shalih, keramat, dan dengan segala kara­mah yang ada pada dirinya, ia men­jadi magnet bagi para tamu untuk me­nimba ilmunya. Peziarah haji yang da­tang dari berbagai penjuru dunia memin­ta untuk dijadikan muridnya. Syaikh Samman sendiri menganggap, keda­tang­an tamu-tamu itu sebagai karunia bagi dirinya sebagai penjaga makam Nabi.
Dalam Tarekat Sammaniyah, Syaikh Samman menyusun ratib, wirid-wirid, ta­wasul, serta berbagai suluk yang dipe­sankan kepada murid-muridnya dalam jama’ah tarekat dzikir Samman.
Tarekat ini kemudian menyebar hing­ga wilayah Sudan, Ethiopia, dan Asia Tenggara. Dari sekian banyak murid Syaikh Samman, yang paling menonjol di an­taranya adalah Syaikh Shiddiq bin Umar Khan Al-Madani, Syaikh Abdul­rah­man bin Abdul Aziz Al-Maghribi, Syaikh Abdul Karim (putra Syaikh Samman), Maulana Sayyid Ahmad Al-Baghdadi, Shuruddin Al-Qabuli, dan Abdul Wahhab Afifi Al-Mishri. Sementara murid yang berasal dari Indonesia di antaranya Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul­rahman Al-Fathani, dan tiga orang dari Palembang: Syaikh Abdul Shamad, Tuan Haji Ahmad, dan Muhyiddin bin Syihabuddin. Ada satu lagi murid Sam­maniyah yang terkenal yaitu Syaikh Muhammad Nafis Al-Banjari, pengarang kitab Ad-Durr Al-Nafis. Namun ia tidak ber­temu langsung dengan Syaikh Samman, ia mengambil ajaran Tarekat Sammani­yah dari Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi, murid Syaikh Samman di Madinah.
Berwasilah
Syaikh Samman pernah berkata, diri­nya tidak mati, hanya pindah dari dunia ke tempat yang tersembunyi, alam bar­zakh. Kalaupun sekiranya ia dianggap mati, ia menyarankan untuk menziarahi kuburnya dan berdzikir di sana. Ia berpesan kepada siapa pun agar berwasilah kepadanya jika menghadapi suasana terdesak. Saat Muqran bin Abdul Mu’in ber­layar dari negeri Suez ke negeri Hijaz, kapalnya diterjang angin topan hingga hampir karam. Saat itulah ia datang menolong.
Tawasul adalah memohon berkah kepada Allah SWT melalui wasilah atau perantara. Yakni Nabi Muhammad, ke­luar­ganya, para sahabat, para wuliya’, para ulama fiqih, para ahli tarekat, para ahli ma’rifat, kedua orangtua, asma-asma Allah, dan lain-lain.
Tawasul lazim dipraktekkan dalam kegiatan tarekat. Begitu juga dalam Tarekat Sammaniyah. Dengan bersan­dar pada sebuah hadits yang berbunyi Dzikr al-awliya’ ’tanzil al-rahmah, yang artinya, ”Sebutlah karamah para wali Allah, maka akan turun rahmah.” Syaikh Samman memang seorang sufi. Meski demikian, ia amat kuat dalam memegang syari’at. Syaikh Samman sangat produktif menulis kitab, seperti Al-Futuhat Ilahiy­yat fi Tawajjuhat al-Ruhiyyat, Al-Istigha­sat, Risalah al-Samman fi adz-Dzikr wa Kayfiyyatihi, Shalawat Nur Muhammad (Shalawat Sammaniyah), Al-Ainiyah. Selain itu, banyak juga kitab Tarekat Sammaniyah yang dikarang oleh murid dan pengikutnya. Seperti Hikayat Syaikh Muhammad Samman, yang ditulis oleh Muhyiddin bin Syihabudiin Al-Falimbani, Ad-Durr Al-Nafis, karya Muhammad Nafis Al-Banjari. Syaikh Samman meninggal pada hari Rabu, 2 Dzulhijjah 1189 H/1775 M, da­lam usia 57 tahun. Jenazahnya di­makamkan di Pemakaman Baqi’, Madi­nah. (dari berbagai sumber)

MANAQIB SYEKH AHMAD BADAWI


SYAIKH AHMAD AL BADAWIY RA
Pendiri Tarekat Badawiyah
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.  Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.   
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.  Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya.

MANAQIB SYEKH ABUL HASAN ASYADZILI



MANAQIB SIDI SYEKH ABUL HASAN AS-SYADZILI, QS
Peletak Dasar Tarekat Syadziliyah

Nama sebenarnya Abu Hassan Ali b. Abdullah b. Abdul Jabbar b. Tamim b. Hurmuz b. Hatim b. Qushoy b. Yusuf b. Yusya' b. Ward b. Abu Batthal Ali b. Ahmad b. Muhammad b. Isa b. Idris b. Abdullah b. al-Hasan al-Mutsanna b. al-Hasan b. Ali b. Abu Thalib Karamallahu wajhah suami Fatimah bt. Muhammad S.A.W.
Kaji dan dapatkan maklumat siapa dia Sayyidul Arifin Imammul Muttaqin wa QaddasALLAHU Sirrahu Imam Abil Hasan as Syazili ini sebelum mengatakan amalan yang dibawanya membawa pendamping jin dan kesesatan,......
Astagfirullah... Inilah amalan dalam kitab Syawariqul Anwar yang disusun oleh Al Marhum as Syyid Dr Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani....
Inilah amalan yang biasa di bumi anbiya' Mesir, Syria, Yaman hatta di Makkah al Mukarramah. Sudah menjadi kebiasaan sebelum dan selepas pengajian kitab Sh Nuruddin dan Sh Fahmi Zam zam di Masjid Sultanah Bahiyah, Masjid Rafiah Taman Uda, PAKSI,Rumah Tafaqquh Alor Star dan di Pondok Derang, kami membaca sama ada hizib bahar, hizib imam Nawawi dan Rattib al Attas...Di Kedah seingat saya bacaan 3 hizib wali Qutub ini ibarat membaca Yaasin pada malam Jumaat... Bagi orang2 alim dan soleh bacaan ini kerutinannya ibarat 'makan nasi' bagi mereka.... Malah sewaktu di Syria, sebelum muzakarah antara pelajar berlangsung kami pelajar2 Malaysia akan memulakan dengan membaca Hizib Bahar terlebih dahulu...
Alhamdulillah saya yang hina dina ini Allah telah memberi peluang menerima ijazahnya dari Sh Nuruddin yang merupakan anak murid Sh Yasin Fadani Musnidul ad Dunya wal Alam dan Sh Uthman Zein Makkatul Mukarramah. Beliau telah mengijazahkan amalan ni kepada kami sejak tahun 2001 lagi semasa di Pondok Derang dan begitu juga guru saya Sheikh Fahmi Zamzam an Nadwi al Maliki yang merupakan anak murid Maulana Sheikh Abul Hasan an Nadwi al Maliki dan juga Sh Muhammad Alawi al Maliki dan merupakan anak murid Sh Nadim as Syihabi Halab Syria dan gurunya Sh Fathullah al Jami. Sh Fahmi Zamzan juga adalah pengikut dan sheikh tarekat Syazili. Beliau juga juga mengambil amalan ni dari Sheiknya al alim al allamah Kiyai Syukri Yunus dari Darus Salam Martapura Indonesia dan kami menerima ijazahnya melalui kitab Bekal Akhirat...
WALLAHI saya tidak pernah mendengar pun dari mana2 guru2 saya dan kata2 ulamak serta mana2 tulisan di mana2 kitab bahawa mengamal hizib bahar atau mana2 amalan ulamak muktabar mempunyai side effect, risiko, keburukan, unsur sihir, unsur hitam, unsur jahat, kekhuatiran akan didampingi jin apabila beramal dengannya dan bala pengkhadaman jin yang membawa kepada kesesatan dan kesyirikan... Malah kami pelajar2 Insaniah yang alhamdulillah biiznillah diberi keketuan menghadiri pengajian tafaqquh dan berulang kali menerima ijazahnya dari guru yang pelbagai tidak pernah mendengar sepatah pun akan kata2 negatif berkenaan amalan ini dari guru2 kami..... dan merekalah sebenar2nya pro, arif dan mahir dengan amalan2 yang mereka ijazahkan.....
Apa2 kenyataan yang membawa kepada kekhuatiran umum untuk mengamalkan amalan para solihin ini adalah fitnah dan pengisytiharan perang kepada awliya' Allah....
Ini adalah komen kawan2 dalam forum kita: Tuab Arman:
Tahukah sahabat-sahabat apakah yang dikatakan hizbul bahr?? Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur disamping dua hizib lagi iaitu hizb an-Nawawi dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang mana mereka ini adalah orang yang amat bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin.
Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk membawa diri seseorang itu menjadi dekat dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain, Mengharapkan redha Allah dalam mengamalkannya disamping melakukan amalan-amalan wajib seperti solat fardu, puasa, mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut.
            Terdapat banyak keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki khianat orang, terpelihara dari gangguan jin, syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan. Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan kepada Allah dan jangan mengharapkannya. Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, cukuplah yang penting kita mengamalkannya hanya mencari redha Allah S.W.T.
Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya mengandungi al-Ismul A'dzam (nama Allah yang Maha Agung).

Kenali al-Imam Abu Hassan asy-Syazili
Nama sebenar :
Abu Hassan Ali b. Abdullah b. Abdul Jabbar b. Tamim b. Hurmuz b. Hatim b. Qushoy b. Yusuf b. Yusya' b. Ward b. Abu Batthal Ali b. Ahmad b. Muhammad b. Isa b. Idris b. Abdullah b. al-Hasan al-Mutsanna b. al-Hasan b. Ali b. Abu Thalib Karamallahu wajhah suami Fatimah bt. Muhammad S.A.W.
Tempat lahir : Kampung Syazilah iaitu sebuah kampung di Afrika.
Tarikh lahir : 593 H.
Menetap :
Di Iskandariah iaitu sebuah bandar besar di Mesir menyebarkan ilmu dan menjadi Syeikh Tariqat asy-Syaziliah. Beliau seorang yang buta tetapi Alah telah gantikan dengan penglihatan yang terang benderang.
Wafat : Di padang Sahara Iz'aab pada 656 H dalam perjalanan menunaikan haji.
Nama lengkap Syeikh Abu Hasan As-Syazili ialah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abu Talib
Syeikh Abu Hasan dilahirkan di Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang). Imam Syadzili dan kelimuan
Di kota kelahirannya itu Syadzili pertama kali menghafal Alquran dan menerima pelajaran ilmi-ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Alquran dan Sunnah demikian juga ilmu yang bersumber dari akal yang jernih. Berkat ilmu yang dimilikinya, banyak para ulama yang berguru kepadanya. Sebagian mereka ada yang ingin menguji kepandaian Syekh Abu al-Hasan. Setelah diadakan dialog ilmiah akhirnya mereka mengakui bahwa beliau mempunyai ilmu yang luas, sehingga untuk menguras ilmunya seakan-akan merupakan hal yang cukup susah. Memang sebelum beliau menjalani ilmu thariqah, ia telah membekali dirinya dengan ilmu syariat yang memadahi.
Imam Syadzili dan Tariqah
Hijrah atau berkelana bisa jadi merupakan sarana paling efektif untuk menemukan jati diri. Tak terkecuali Imam Syadzili. Orang yang lebih dikenal sebagai sufi agung pendiri thariqah Syadziliyah ini juga menapaki masa hijrah dan berkelana.
Asal muasal beliau ingin mencari jalan thariqah adalah ketika masuk negara Tunis sufi besar ini ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara Syekh-syekh yang bisa membuat hatinya mantap dan berkenan adalah Syekh Abi Said al-Baji. Keistimewaan syekh ini adalah sebelum Abu al-Hasan berbicara mengutarakannya, dia telah mengetahui isi hatinya. Akhirnya Abu al-Hasan mantap bahwa dia adalah seorang wali. Selanjutnya dia berguru dan menimba ilmu darinya. Dari situ, mulailah Syekh Abu al-Hasan menekuni ilmu thariqah.
Beliau pernah berguru pada Syeikh Ibnu Basyisy dan kemudian mendirikan tarekat yang dikenal dengan Tariqat Syaziliyyah di Mesir.
Untuk menekuni tekad ini, beliau bertandang ke berbagai negara, baik negara kawasan timur maupun negara kawasan barat. Setiap derap langkahnya, hatinya selalu bertanya, "Di tempat mana aku bisa menjumpai seorang syekh (mursyid)?". Memang benar, seorang murid dalam langkahnya untuk sampai dekat kepada Allah itu bagaikan kapal yang mengarungi lautan luas. Apakah kapal tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa seorang nahkoda (mursyid). Dan inilah yang dialami oleh syekh Abu al-Hasan. Dalam pengembaraannya Imam Syadzili akhirnya sampai di Iraq, yaitu kawasan orang-orang sufi dan orang-orang shalih. Di Iraq beliau bertemu dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, yaitu syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan dengan syekh di Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan, "Hai Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada di negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya".
Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu dengan Syekh al-Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh tersebut tinggal di puncak gunung.
Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di bawah gunung dan beliau datang laksana orang hina dina dan penuh dosa. Sebelum beliau naik gunung ternyata Syekh Abdussalam telah turun menemuinya dan berkata, "Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar……". Begitu sambutan syekh tersebut sembari menuturkan nasabnya sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata, "Kamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat”
Akhirnya beliau tinggal bersamanya untuk beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan pancaran ilahi. Selama bersama Syekh Abdussalam, beliau melihat beberapa keramat yang dimilikinya. Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Syekh Abu al-Hasan benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid, atau antara muwarrits dan waarits. Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu al-Hasan dari guru agung ini.
Di antara wasiat Syekh Abdussalam kepada Syadzili adalah, "Pertajam penglihatan keimanan, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu".
Tentang nama Syadzili
Kalau dirunut nasab maupun tempat kelahiran syekh agung ini, tidak didapati sebuah nama yang memungkinkan ia dinamakan Syadzili. Dan memang, nama tersebut adalah nama yang dia peroleh dalam perjalanan ruhaniah.
Dalam hal ini Abul Hasan sendiri bercerita : "Ketika saya duduk di hadapan Syekh, di dalam ruang kecil, di sampingku ada anak kecil. Di dalam hatiku terbersit ingin tanya kepada Syekh tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata, "Wahai, Abu al–Hasan, kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah berada dalam hatimu. Akhirnya Syekh tersenyum dan berkata, "Dia telah menjawab pertanyaanmu".
Selanjutnya Syekh Abdussalam memerintahkan Abu al-Hasan untuk pergi ke daerah Afriqiyyah tepatnya di daerah bernama Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya dengan nama Syadzili –padahal pada waktu itu Abu al-Hasan belum di kenal dengan nama tersebut-.

Sebelum berangkat Abu al-Hasan meminta wasiat kepada Syekh, kemudian dia berkata, "Ingatlah Allah, bersihkan lidah dan hatimu dari segala yang mengotori nama Allah, jagalah anggota badanmu dari maksiat, kerjakanlah amal wajib, maka kamu akan memperoleh derajat kewalian. Ingatlah akan kewajibanmu terhadap Allah, maka kamu akan memperoleh derajat orang yang wara'. Kemudian berdoalah kepada Allah dengan doa, "Allahumma arihnii min dzikrihim wa minal 'awaaridhi min qibalihim wanajjinii min syarrihim wa aghninii bi khairika 'an khairihim wa tawallanii bil khushuushiyyati min bainihim innaka 'alaa kulli syai'in qadiir".
Selanjutnya sesuai petunjuk tersebut, Syekh Abu al-Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia yang telah dikatakan kepadanya. Dalam perjalanan ruhaniah kali ini dia banyak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang telah dialami oleh para wali-wali pilihan. Akan tetapi dengan cobaan tersebut justru semakin menambah tingkat keimanannya dan hatinya semakin jernih.
Sesampainya di Syadzilah, yaitu daerah dekat Tunis, dia bersama kawan-kawan dan muridnya menuju gua yang berada di Gunung Za'faran untuk munajat dan beribadah kepada Allah SWT. Selama beribadah di tempat tersebut salah satu muridnya mengetahui bahwa Syekh Abu al-Hasan banyak memiliki keramat dan tingkat ibadahnya sudah mencapai tingkatan yang tinggi.
Pada akhir munajat-nya ada bisikan suara , "Wahai Abu al-Hasan turunlah dan bergaul-lah bersama orang-orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu, kemudian beliau berkata: "Ya Allah, mengapa Engkau perintahkan aku untuk bergaul bersama mereka, saya tidak mampu" kemudian dijawab: "Sudahlah, turun Insya Allah kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari mereka" kemudian beliau berkata lagi: "Kalau aku bersama mereka, apakah aku nanti makan dari dirham mereka? Suara itu kembali menjawab : "Bekerjalah, Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizik dari usahamu juga dari rizki yang Aku berikan secara gaib.
Dalam dialog ilahiyah ini, dia bertanya kepada Allah, kenapa dia dinamakan syadzili padahal dia bukan berasal dari syadzilah, kemudian Allah menjawab: "Aku tidak mnyebutmu dengan syadzili akan tetapi kamu adalah syadzdzuli, artinya orang yang mengasingkan untuk ber-khidmat dan mencintaiku”.
Imam Syadzili menyebarkan Tariqah Syadziliyah
Dialog ilahiyah yang sarat makna dan misi ini membuatnya semakin mantap menapaki dunia tasawuf. Tugas selanjutnya adalah bergaul bersama masyarakat, berbaur dengan kehidupan mereka, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan ketenangan hidup. Dan Tunis adalah tempat yang dituju wali agung ini.
Di Tunis Abul Hasan tinggal di Masjid al-Bilath. Di sekitar tempat tersebut banyak para ulama dan para sufi. Di antara mereka adalah karibnya yang bernama al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu al-Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah al-Shabuni.
Popularitas Syekh Abu al-Hasan semerbak harum di mana-mana. Aromanya sampai terdengar di telinga Qadhi al-Jama'ah Abu al-Qasim bin Barra'. Namun aroma ini perlahan membuatnya sesak dan gerah. Rasa iri dan hasud muncul di dalam hatinya. Dia berusaha memadamkan popularitas sufi agung ini. Dia melaporkan kepada Sultan Abi Zakaria, dengan tuduhan bahwa dia berasal dari golongan Fathimi.
Sultan meresponnya dengan mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu al-Hasan dan Qadhi Abul Qosim. Hadir di situ juga para pakar fiqh. Pertemuan tersebut untuk menguji seberapa kemampuan Syekh Abu al-Hasan.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abul Hasan di depan umum. Namun, sebagaimana kata-kata mutiara Imam Syafi'I, dalam ujian, orang akan terhina atau bertambah mulia. Dan nyatanya bukan kehinaan yang menimpa wali besar.
Kemuliaan, keharuman nama justru semakin semerbak memenuhi berbagai lapisan masyarakat.
Qadhi Abul Qosim menjadi tersentak dan tertunduk malu. Bukan hanya karena jawaban-jawaban as-Syadzili yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, tapi pengakuan Sultan bahwa Syekh Abu al-Hasan adalah termasuk pemuka para wali. Rasa iri dan dengki si Qadhi terhadap Syekh Abu al-Hasan semakin bertambah, kemudian dia berusaha membujuk Sultan dan berkata: "Jika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis akan menurunkanmu dari singgasana".
Ada pengakuan kebenaran dalam hati, ada juga kekhawatiran akan lengser dari singgasana. Sultan demi mementingkan urusan pribadi, menyuruh para ulama' fikih untuk keluar dari balairung dan menahan Syekh Abu al-Hasan untuk dipenjara dalam istana.
Kabar penahanan Syekh Abul Hasan mendorong salah seorang sahabatnya untuk menjenguknya.
Dengan penuh rasa prihatin si karib berkata, "Orang-orang membicarakanmu bahwa kamu telah melakukan ini dan itu". Sahabat tadi menangis di depan Syekh Abu al-Hasan lalu dengan percaya diri dan kemantapan yang tinggi, Syekh tersenyum manis dan berkata, "Demi Allah, andaikata aku tidak menggunakan adab syara' maka aku akan keluar dari sini –seraya mengisyaratkan dengan jarinya-. Setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding maka dinding tersebut langsung terbelah, kemudian Syekh berkata kepadaku: "Ambilkan aku satu teko air, sajadah dan sampaikan salamku kepada kawan-kawan. Katakan kepada mereka bahwa hanya sehari saja kita tidak bertemu dan ketika shalat maghrib nanti kita akan bertemu lagi".
Syeikh as-Syadzili tiba di Mesir
Tunis, kendatipun bisa dikatakan cikal bakal as-Syadzili menancapkan thariqah Syadziliyah namun itu bukan persinggahan terakhirnya. Dari Tunis, Syekh Abu al-Hasan menuju negara kawasan timur yaitu Iskandariah. Di sana dia bertemu dengan Syekh Abi al-Abbas al-Mursi. Pertemuan dua Syekh tadi memang benar-benar mencerminkan antara seorang mursyid dan murid.
Adapun sebab mengapa Syekh pindah ke Mesir, beliau sendiri mengatakan, "Aku bermimpi bertemu baginda Nabi, beliau bersabda padaku : "Hai Ali… pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku”.
Di Iskandariah beliau menikah lalu dikarunia lima anak, tiga laki-laki, dan dua perempuan. Semasa di Mesir beliau sangat membawa banyak berkah. Di sana banyak ulama yang mengambil ilmu dari Syekh agung ini. Di antara mereka adalah hakim tenar Izzuddin bin Abdus-Salam, Ibnu Daqiq al-Iid , Al-hafidz al-Mundziri, Ibnu al-Hajib, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur, dan yang lain-lain di Madrasah al-Kamiliyyah yang terletak di jalan Al-muiz li Dinillah.
Karamah Imam Syadzili
Pada suatu ketika, Sultan Abi Zakaria dikejutkan dengan berita bahwa budak perempuan yang paling disenangi dan paling dibanggakan terserang penyakit langsung meninggal. Ketika mereka sedang sibuk memandikan budak itu untuk kemudian dishalati, mereka lupa bara api yang masih menyala di dalam gedung. Tanpa ampun bara api tadi melalap pakaian, perhiasan, harta kekayaan, karpet dan kekayaan lainnya yang tidak bisa terhitung nilainya.
Sembari merenung dan mengevaluasi kesalahan masa lalu, Sultan yang pernah menahan Syekh Syadzili karena hasudan qadhi Abul Qosim tersadar bahwa kejadian-kejadian ini karena sikap dia terhadap Syekh Abu al-Hasan. Dan demi melepaskan 'kutukan' ini saudara Sultan yang termasuk pengikut Syekh Abu al-Hasan meminta maaf kepada Syekh, atas perlakuan Sultan kepadanya. Cerita yang sama juga dialami Ibnu al-Barra. Ketika mati ia juga banyak mengalami cobaan baik harta maupun agamanya.
Di antara karomahnya adalah, Abul Hasan berkata, "Ketika dalam suatu perjalanan aku berkata, "Wahai Tuhanku, kapankah aku bisa menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu?, kemudian beliau mendengar suara , "Yaitu apabila kamu berpendapat tidak ada orang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali hanya dirimu. Karena belum tahu maksud ungkapan itu aku bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu, padahal Engkau telah memberikan nikmat-Mu kepada para Nabi, ulama' dan para penguasa.
Suara itu berkata kepadaku, "Andaikata tidak ada para Nabi, maka kamu tidak akan mendapat petunjuk, andaikata tidak ada para ulama', maka kamu tidak akan menjadi orang yang taat dan andaikata tidak ada para penguasa, maka kamu tidak akan memperoleh keamanan. Ketahuilah, semua itu nikmat yang Aku berikan untukmu".
Di antara karomah sudi agung ini adalah, ketika sebagian para pakar fiqh menentang Hizib Bahr, Syekh Syadzili berkata, "Demi Allah, saya mengambil hizib tersebut langsung dari Rasulullah saw harfan bi harfin (setiap huruf)".
Di antara karomah Syekh Syadzili adalah, pada suatu ketika dalam satu majlis beliau menerangkan bab zuhud. Beliau waktu itu memakai pakaian yang bagus. Ketika itu ada seorang miskin ikut dalam majlis tersebut dengan memakai pakaian yang jelek. Dalam hati si miskin berkata, "Bagaimana seorang Syekh menerangkan bab zuhud sedangkan dia memakai pakaian seperti ini?, sebenarnya sayalah orang yang zuhud di dunia".
Tiba-tiba Syekh berpaling ke arah si miskin dan berkata, "Pakaian kamu ini adalah pakaian untuk menarik simpatik orang lain. Dengan pakaianmu itu orang akan memanggilmu dengan panggilan orang miskin dan menaruh iba padamu. Sebaliknya pakaianku ini akan disebut orang lain dengan pakaian orang kaya dan terjaga dari meminta-minta".
Sadar akan kekhilafannya, si miskin tadi beranjak berlari menuju Syekh Syadzili seraya berkata, "Demi Allah, saya mengatakan tadi hanya dalam hatiku saja dan saya bertaubat kepada Allah, ampuni saya Syekh". Rupanya hati Syekh terharu dan memberikan pakaian yang bagus kepada si miskin itu dan menunjukkannya ke seorang guru yang bernama Ibnu ad Dahan. Kemudian syekh berkata, "Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan. Dan semoga hidupmu berkah dan mendapatkan khusnul khatimah".

Syeikh Syadzili Wafat
Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, "Di Jurang Humaistara (di propinsi Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.
***sedikit perkongsian info- kita hadiahkan al fatihah utk as-Syeikh Abu Hassan As-Syazali al wali qutub...al Fatihahhh...