ahmad

ahmad
panglima

Selasa, 08 April 2014

MANAQIB SYAIKH QODIRUN YAHYA


PROF. DR. HAJI SIDI SYEIKH KADIRUN YAHYA MUHAMMAD AMIN AL-KHALIDI, M.SC,qs
MURSYID TAREKAT NAQSYABANDIYYAH KHALIDIYYAH
Menapak Tilas Kesaktian Haji Sidi Syeikh Kadirun YahyaPendiri dan Rektor Panca Budi yang unik ini adalah seorang yang unik juga. Prof. DR. Haji Sidi Syeikh Kadirun Yahya M.Sc, seorang Naqsyabandiyah yang mempunyai murid banyak di beberapa wilayah Nusantara. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l48). Kadirun Yahya lahir tahun 1917 di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Pada usia muda ia tinggal cukup lama di Pulau Jawa, yaitu Yogyakarta dan Magelang, tempat ia menuntut ilmu pada sekolah Belanda (sekolah Mulo) dan AMS. Ia pernah lama tinggal bersama keluarga seorang Pendeta Belanda dan sempat menjadi asisten sang Pendeta, malahan beberapa kali menggantikannya dalam tugas menguraikan khutbah di Gereja. Dan ia belajar juga tentang agama, aliran kepercayaan, metafisika dan ilmu ghaib lainnya. (Jawa Tengah, pada dasawarsa 1930 an itu, memang sangat kaya akan aneka aliran mistisisme dan kebatinan, aliran teosofi, yang cukup berpengaruh pada waktu itu). Setelah selesai belajar di Jawa Tengah, Kadirun mengaku pernah tinggal satu dua tahun di Negeri Belanda dan mempelajari ilmu kimia, tetapi tahun 1941 --Belanda saat itu diduduki Jerman-- ia kembali ke Indonesia dan menetap di Sumatera Utara . (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l50). Tidak lama setelah pulang ke Sumatera, ia untuk pertama kalinya berhubungan dengan tarekat Naqsyabandiyah. Syeikh Syahbuddin dari Sayur Matinggi (Tapanuli Selatan) mengajarkan dasar-dasar tarekat ini. Pada tahun 1947, Kadirun nikah dengan putri Syeikh Haji Jalaluddin. Melalui mertuanya, yang kediamannya di Bukit Tinggi merupakan tempat pertemuan syeikh-syeikh tarekat, Kadirun akhirnya berkenalan dengan Syeikh yang kelak menjadi guru utamanya, Syeikh Muhammad Hasyim Buayan. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l48). Dalam waktu yang singkat, Syeikh Hasyim mengangkat Kadirun menjadi Khalifahnya (tahun 1950) dan dua tahun kemudian menyatakan sebagai Syeikh sepenuhnya dengan gelar "Sidi Syeikh". Bagi para muridnya Syeikh Kadirun adalah ayah dan Syekh Yasin adalah kakek. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l51).
            Tahun-tahun Kadirun mulai muncul sebagai guru muda tarekat Naqsabandiyah, merupakan juga tahun-tahun mertuanya sangat giat mengembangkan organisasi PPTI (Partai Poltik Tarekat Islam, pen.). Syeikh Haji Jalaluddin berusaha mengkoordinasi semua guru tarekat dalam wadah ini, termasuk menantunya, yang memang pernah menjadi anggotanya juga. Tetapi hubungan mertua dan menantu cepat menjadi tegang. Menurut Syeikh Kadirun, konflik sudah mulai terasa sekitar tahun 1950 dan disebabkan oleh karena Syeikh Haji Jalaluddin terlalu terang-terangan mengungkapkan segala seluk beluk tarekat kepada siapa saja. Kemudian belakangan Kadirun menuduh mertuanya bahwa ia tidak pemah menerima ijazah dari Syeikh Ali Ridia seperti diakuinya, melainkan mengambil semua pengetahuannya tentang tarekat dari buku saja.
            Sumber konflik lain, tentu saja, adalah ambisi kedua tokoh tarekat ini. Sejak menjadi syeikh pada tahun 1952, Syeikh Kadirun mulai melantik khalifah banyak sekali; dalam rentang lima tahun pertama jumlahnya sudah mencapai tiga puluh, dan kemudian setiap tahun bertambah 5 sampai 20 orang. Dan menurut catatan kaki dalam buku tersebut, tgl 10 Oktober 1975, jumlah khalifah sudah mencapai 195. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l51). Kadirun Yahya diangkat oleh Syeikh Hasyim menjadi khalifah Naqsabandiyah tahun 1950. Menjelang Syeikh Hasyim wafat pada tahun 1954 beliau sudah secara diam-diam menurunkan dan mewariskan segala ilmunya kepada Syeikh Kadirun, begitu juga sekalian pusaka yang beliau terima dari Jabal Kubis, Statuten, bendera-bendera kerasulan serta pusaka-pusaka lainnya termasuk cincin kesayangan. "Akhirnya Syeikh Hasyim wafat, dan keluarga serta murid-muridnya bertangisan. Tetapi lebih kurang empat jam kemudian ia bangun lagi dan menyuruh orang mencari Syeikh Kadirun. Ketika dia datang, sang guru berkata, 'Aku tadi telah meninggal empat jam, tetapi aku permisi pada Tuhan Allah untuk hidup kembali agak sebentar, karena ada lagi yang lupa yang belum aku turunkan pada anak'. Beberapa hari lagi setelah ilmu terakhir ini diturunkan, sang guru berpulang ke rahmatullah." Ini merupakan keanehan ke-6 yang diceriterakan oleh murid-muridnya. (Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, hal. l54).  Masih pada buku yang sama, halaman 155-156, dikatakan, "Kalimat Allah, yaitu ayat-ayat Al Qur'an, mengandung tenaga tak terhingga, tenaga nuklir pun belum apa-apa dibandingkan dengan tenaga llahi ini. Kebesaran dari pada Kalimat-kalimat Allah itu, untuk menyambut dan menghancurkan sekaligus, akan ancaman-ancaman bahaya maut bagi umat manusia seperti tersebut di atas! Kalau bukit-bukit dapat dilebur oleh ayat Al Hasyr 21. Dan kalau bukit-bukit dapat dibelah dengan ayat Ar Ra'du 31, pasti apa saja bisa dilebur oleh Kalimah-kalimah Allah yang Maha Agung, termasuk senjata-senjata atom dan nuklir dari negara-negara super power, sehingga bahaya 'kalimat' yang didatangkan oleh tenaga atom dan nuklir dapat dimusnahkan sama sekali…" "Tetapi bagaimana metode untuk mengeluarkan tenaga tak terhingga dari Kalimah Allah?Disini letak rahasia dan kehebatan tarekat dan fungsi kunci seorang guru murysid pembawa wasilah. Caranya kata Prof. Syeikh Kadirun, adalah dengan mempergunakan frekuensi yang dimiliki Rohani Rasulullah yang hidup di sisi Allah. Huwal Awwalu wal Akhiru, frekuensi mana terdapat melalui frekuensi dari pada Rohani para Ahli silsilah termasuk Rohani Mursyid, sehingga dengan memakai frekuensi itu Rohani kita detik itu juga dapat hadir pada Allah SWT dan kemudian baru berdzikir, dengan baru pula menegakkan shalat. Dengan suatu kiasan fisika lainnya, tenaga Allah adalah ibarat listrik, dan wasilah, penghantar atau saluran manusia dan Allah melalui Mursyid dan Silsilahnya, serupa kawat listrik."
            Untuk tujuan-tujuan tertentu ia memakai sebuah tongkat seperti tongkat Nabi Musa. Dengan tongkat ini ia dapat langsung memusatkan energi Ilahi ke arah obyek yang ditunjukkannya; ia bisa mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati. Untuk tujuan-tujuan lain, air atau batu krikil kecil yang sudah disalurkan padanya Kalimah Allah dapat dipakai sebagai kondensator yang berisi energi Ilahi yang sama. Tentu saja bukan sembarang yang bisa membuat air Tawajuh atau batu sijil tersebut. Itu hanya dapat dilakukan oleh seorang Syeikh Kamil Mukammil, yang sudah meninggal, yaitu Syeikh yang rohaninya sudah mencapai frekuensi sama dengan frekuensi Nur Muhammad yang ada di sisi Allah SWT. Air Tawajuh tentu bisa dipakai untuk mengobati segala penyakit. Dan menurut pengakuan umum, pengobatan Syeikh Kadirun cukup berhasil. Tetapi sang Syeikh pernah mengaku memakai air dan krikil untuk tujuan spektakuler. Ketika gunung Galunggung meletus dan menimbulkan banyak kerusakan, tahun 1982, Syeikh Kadirun dimintai tolong untuk mengatasi bencana alam ini. Segenggam batu sijjil yang dilemparkan dari sebuah helikopter ke bawah gunung Galunggung, ternyata cukup untuk menghentikan letusannya. Waktu masih ada pemberontakan komunis di Malaysia, Syeikh Kadirun pernah dimintai tolong oleh Datuk Hamzah Abu Sammah, Menteri pertahanan negara tetangga ini untuk membasminya, setelah segala cara lain gagal. Air dan kerikil yang diisi Kalimatullah, sekali lagi ditebarkan dari udara dengan helikopter, berhasil menumpas gerombolan pemberontak di hutan rimba. Air tawajuh Syeikh Kadirun pernah pula dipakai dalam perang Irak-Iran: selama beberapa tahun, Duta Besar Irak terus meminta bantuan Syeikh Kadirun, dan pada masa itu pasukan Irak memang maju terus. Baru setelah Duta Besar Irak tersebut digantikan dengan seorang yang tidak percaya pada hal-hal paranormal, Iran mulai meraih kemenangan. Pembebasan kota Kuds (Yerussalem) yang begitu banyak dibicarakan, sebetulnya merupakan masalah sederhana, asal orang Palestina mau memanggil Syeikh Kadirun dan membiayai jasanya ilmu ini bukanlah barang murahan (Not. Kasus-kasus penerapan energi Kalimah Allah ini diceriterakan kepada penulis buku Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, oleh Syeikh Kadirun sendiri dalam wawancara pada tgl 3-11-1986, lihat catatan kaki no.38, hal.l57). (jaka kelana/ bbs)
BIOGRAFI PROF.DR.H.S.S. KADIRUN YAHYA
1. Tahun dan Tempat Kelahiran
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA dilahirkan pada tanggal 20 Juni 1917 di Pangkalan Berandan, Sumut, dari Bapak bernama Sutan Sori Alam Harahap seorang pegawai perminyakan (BPM) Pangkalan Berandan yang berasal dari kampung Siharang Karang, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan dan dari Ibu bernama Siti Dour Siregar, Beliau dilahirkan dari keluarga Islamis religius, nenek beliau dari pihak ayahanda dan nenek beliau dari pihak Ibunda adalah 2(dua) orang Syekh Tarekat, yaitu Syekh Yahya dari pihak Ayah dan Syekh Abdul Manan dari pihak Ibu, Keluarga, ini selalu dikunjungi oleh para Syekh pada zaman dahulu.
Berbekal pendidikan tersebut diatas, beliau dikaruniai Tuhan 3 (tiga) macam keahlian
1. lmu Fisika – Kimia mengajar ilmu ilmu ini selama kurang lebih 20 tahun
2. Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman serta Bahasa Belanda (mengajar ilmu – ilmu ini selama kurang lebih 15 tahun).
3. Ilmu Filsafat kerohanian dan metafisika/agama islam bagian tasawuf dan tarekat.
(mengajar dan mempraktekkannya selama 46 tahun, sejak 1950 sehingga tahun 1996), 2. Pendidikan
Secara kronologis pendidikan yang ditempuh oleh PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA adalah
1. HIS Negeri 1924 – 1931 (tamat)
2. MULO B Negeri 1931 - 1935 ( tamat dengan voorklasse)
3. AMS-B Negeri 1935 - 1938 ( tamat dengan beasiswa)
4. Kuliah Ilmu Ketabiban 1938-1940 (memutar haluan ke nomor 5)
5. Kuliah Ilmu Jiwa Amsterdam 1940 – 1942 (tamat) Masa perang Dai Toa, pendidikan terhenti.
6. Kuliah Agama Islam (bagian tasawuf/Sufi) selama 7 tahun : 1947 – 1954, mendapat tiga buah ijazah.
7. Kuliah Indologie dan Bahasa Inggris 2 tahun, 1951-1953.
8. M.O Bahasa Inggris 1e gedeelte tahun 1953, Bandung.
9. Lulus ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika, tahun 1962
10. Doktor dalam Ilmu Filsafat ( Kerohanian dan metafisika tahun 1968 11. Lulus ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Ilmu Fisika – Kimia tahun 1973.
12. Lulus ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam bahasa Inggris tahun
Secara garis besarnya dipraktekkan dalam 4 bagian :
1.   Mengajarkan Agama Islam bagian tasawuf dan tarekat serta memimpin iktikaf/suluk berdasarkan metode Tarikat Naqsyahbandiyah.
2.   Membantu ilmu ketabiban/kedokteran antara lain terhadap penyakit “lever abscess”, “Lung abscess”,Narkotika, Kanker kulit, Kanker Payudara, Hemarrhoide(wasir), jantung, tumor, batu empedu, pankreas, dan lever, prostad, AIDS, mentruasi bulanan yang tidak pernah berhenti selama 8 tahun, dan berbagai penyakit aneh serta ganjil yang tidak dapat disembuhkan secara medis sebab mengandung unsur ghaib dan lain lain.
3.   Pembinaan kerohanian bagi masyarakat dan generasi muda yang “sesat jalan”, putus sekolah, kecanduan narkotika dan minuman keras, kenakalan remaja dan memberikan kepada mereka pendidikan formal/informal.
4.   Bidang bidang lainnya meliputi ketatanegaraan, menumpas Atheisme/komunisme, kemasyarakatan dan lain lain.
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA selalu mendapat kunjungan yang tidak putus-putusnya dari insan - insan yang berdatangan dari segenap pelosok Indonesia dan Luar negeri, antara lain Malaysia, Thailand, Amerika, Belanda, India, Saudi Arabia, dan lain lain, Atas kurnia Allah SWT tersebut beliau bersyukur tiada hingganya.
SEJARAH BERGURU.
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, mengenal tarekat tahun 1943 – 1946 melalui seorang khalifah dari Syekh Syahbudin Aek Libung (Tapanuli Selatan) pada waktu itu masa pergolakan (penjajahan Jepang) dan beliau belum terlalu mendalami tarekat.
Pada tahun 1947 PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, hadir dirumah murid Saidi Syekh M. Hasyim Buayan di Bukit Tinggi (sumatera barat), yang pada waktu itu akan dimulai pelaksanaan tawajuh yang dipimpin oleh Syaidi Syekh M. Hasyim Buayan. Saidi Syekh Buayan sangat disiplin dalam melaksanakan ketentuan tawajuh, dan karenanya siapa saja yang belum ikut tarekat disuruh keluar. Tetapi pada waktu tawajuh hendak dilaksanakan, Saidi Syekh M. Hasyim Buayan melihat PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, dan membolehkan beliau ikut tawajuh dengan diajarkan kaifiat singkat oleh khalifahnya pada saat itu juga. Ini merupakan peristiwa yang langka terjadi pada murid Tarekat Naqsyabandiyah seperti yang terjadi atas diri PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, yaitu belum memasuki tarekat tetapi sudah mengikuti tawajuh.
Peristiwa langka lainnya dialami PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, adalah pada tahun 1949 (saat agresi belanda) beliau mengungsi di pedalaman Tanjung Alam Batu Sangkar Sumatera Barat, Disini beliau mencara sebuah ,mesjid/surau, lalu shalat dan beramal.berzikir berjam jam, berhari – hari. Pada suatu hari datanglah ke Mesjid tersebut sekelompok orang dengan maksud melaksanakan I’tikaf/suluk, yang dipimpin oleh seorang khalifah dari seorang Syekh termashyur dinegeri tersebut yaitu Syekh Abdul Majid Tanjung Alam, Khalifah dari Syekh Abdul Majid meminta agar PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, memimpin suluk tersebut.
 Pada mulanya PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, menolak, tetapi setelah berkonsultasi selanjutnya beliau bersedia, dengan syarat ada izin dari Saidi Syekh Muhammad Hasyim Buayan. Lalu Khalifah tersebut secara batin minta izin dulu pada Saidi Syekh M. Hasyim Buayan, setelah ada izin barulah PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, memimpin suluk tersebut.  PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, belum pernah suluk, tetapi sudah mensulukkan orang.  Setelah kejadian itu, PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, menemui Syekh Abdul Majid Tanjung Alam untuk minta suluk, kemudian mereka melaksanakan suluk bersama, setelah suluk berakhir, PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, dianugerahi 1 (satu) ijazah yang isinya sangat memberikan kemulian pada PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, sebagai seorang yang masih muda dan tidak memiliki apa – apa merasa tidak berhak menerima kemuliaan itu, tetapi Syekh Abdul Majid Tanjung Alam mengatakan bahwa hal itu telah digariskan dari atas, apalagi guru beliau pernah berkata bahwa ia akan memberikan ijazah kepada seorang yang dicerdikkan Allah SWT.  Menurut menantu/wakil/penjaga suluk yaitu khalifah H. Imam Ramali, Syekh Abdul Majid Tanjung Alam pernah berkata bahwa PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, adalah orang yang benar benar mampu melaksanakan suluk dan akan dikenal diseluruh dunia sebagai pembawa tarekat Naqsyabandiyah.  Selanjutnya PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, kembali menjumpai Saidi Syekh M. Hasyim Buayan untuk mempertanggung jawabkan kegiatan beliau yang “di luar prosedur” tersebut dan sekaligus memohon suluk. Hal ini diperkenankan oleh Saidi Syekh M. Hasyim Buayan dengan langsung membuka suluk.
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, sangat erat hatinya dengan guru beliau (Saidi Syekh M.Hasyim Buayan). Selama guru beliau hidup setiap minggu beliau ziarah kepadanya (tahun 1950 – 1954 ). Setelah beliau wafat, ziarah tetap dilanjutkan antara 1(satu) sampai dengan 3(tiga) kali dalam setahun. Penilaian Saidi Syekh M. Hasyim Buayan tentang PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA.
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, mendapatkan pujian tinggi antara lain dari segi ketakwaan, kualitas pribadi dan kemampuan melaksanakan suluk sesuai dengan ketentuan akidah dan syariat Islam.
 PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, adalah satu satunya murid yang diangkat menjadi Saidi Syekh oleh gurunya di makam moyang guru di Hutapungkut dan di umumkan keseluruh Negeri.  Dalam Ijazah beliau dicantumkan kata kata, Guru dari orang - orang cerdik pandai.
PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, diberi izin untuk melaksanakan dan menyesuaikan segala ketentuan Tarekat Naqsyabandiyah dengan kondisi zaman, sebab semua hakikat ilmu telah dilimpahkan gurunya pada beliau.
 PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, adalah orang yang benar - benar mampu melaksanakan suluk sesuai dengan pesan guru beliau yang disampaikan kepada menantu/penjaga suluk/khalifah Anwar Rangkayo Sati.  Sebagaimana pada awalnya begitu pulalah pada akhirnya, begitulah pada suatu saat kemudian Tarekat Naqsyabandiyah dipaparkan secara keseluruhan oleh Syekh Syahbuddin Sayur Matinggi kepada PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, Syekh Sayur Matinggi pernah berkata kepada anak kandung beliau yang menjaga suluk yaitu Syekh Husin, bahwa yang benar benar dapat menegakkan Suluk adalah PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA.  Pada tahun 1971, PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, bertemu dengan Syekh Moh. Said Bonjol, Setelah Tawajuh, Syekh Moh. Said Bonjol memutuskan untuk memberikan sebuah Mahkota yang dititipkan guru beliau kepadanya, dengan pesan agar diberikan kepada seseorang yang pantas, Puluhan tahun berlalu, barulah “ Orang yang pantas” tersebut ditemukan oleh beliau yaitu: PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, Bersamaan dengan penyerahan mahkota itu terjadi hujan rintik – rintik yang disertai petir tunggal menggelegar dan gempa bumi, Peristiwa ini lazim terjadi setiap kali ada timbang terima amanah besar.
PEKERJAAN
• Sebelum 17 Agustus 1945.
• Guru Sekolah Muhammadiyah di Tapanuli Selatan 1942 -1945
• Sesudah 17 Agustus 1945.
• Kepala Industri perang merangkap guru bahasa Panglima sumatera ( Mayjend. Suharjo Hardjowardoyo) dengan pangkat kolonel Inf. Di Komandemen Sumatera Bukit Tinggi 1946-1950.
• Staf Pengajar SPMA Negeri Padang Tahun 1950 - 1955
• Staf Pengajar SPMA Negeri Medan, 1955 - 1961, dan kemudian pindah menjadi staf pada departemen Pertanian (Deptan) Jakarta tahun 1961 – 1968.
• Ketua Umum Yayasan PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, Tahun 1956 – 2001.
• Guru Besar, USU, UNPAD, UNU, UNPAB, Universitas Prof. Dr. Mustopo, SEKOAD, UMSU/AFHIM, tahun 1960 – 1978.
• Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi/Perguruan Panca Budi, Tahun 1961-1998.
• Aspri Panglima Mandala I Sumatera, sebagai Kolonel Aktif pada masa Dwikora dibawah pimpinan Letjend. A.Yunus Mokoginta, tahun 1964-1965.
• Aspri Panglima Mandala I Sumatera, sebagai Kolonel Aktif pada Penumpasan G.30S/PKI dibawah pimpinan Letjend. A.Yunus Mokoginta, tahun 1965-1967.
• Anggota Dewan Curator Seksi Ilmiah Universitas Negeri Sumatera Utara, tahun 1965-1970.
• Pembantu Khusus/Kolonel Aktif Dirbinum Hankam, dibawah pimpinan Letjend.R. Sugandhy, Tahun 1967-1968.
• Rektor Post Graduate Studies Jakarta (yang pertama di RI), tahun 1968 – 1971.
• Diperbantukan dari Deptan ke Penasehat Ahli Menko Kesra, tahun 1968 – 1974.
• Penasehat Pribadi Free Lance Menteri Pertahanan Malaysia, Tahun 1974 – 1975.
• Penasehat ahli Menko Kesra, tahun 1986 - 1998.
• Penasehat ahli/Konsultan Direktorat Litbang Mabes Polri Jakarta tahun 1990 -2001.
• Anggota MPR RI, Tahun 1993-1998.
• Anggota Sarjana Veteran
• Ketua Umum Yayasan PROF. DR. H.S.S KADIRUN YAHYA, tahun 1956 - 1998.
• Ketua Umum Islamic Phylosophical Institute (non politik) dalam dan luar negeri, tahun 1960 – 1972.
• Anggota Presidium Seksi Ilmiah merangkap ketua Cabang Sumut Team Konsultasi Penganut Agama Seluruh Indonesia, tahun 1962-1972.
• Penasehat umum Yayasan Baitul Amin, Jakarta tahun 1963 – 2001.
• Anggota K.I.A.A Jakarta, tahun 1964.
• Penasehat Yayasan Hutapungkut ( Ketua : H. Adam Malik ), tahun 1965 – 1978.
• Anggota World Organization Religion and Science, tahun 1969 – 1970.
• Sponsor/Anggota Golongan Karya, Tahun 1970 - 1998.
• Anggota Asean Law & Association, tahun 1984 – 2001.
• Ketua Majelis Pertimbangan Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumatera Utara, tahun 1986 - 2001.
• Anggota Dewan Pembina / Kehormatan Badan Musyawarah Masyarakat Minang Sumatera Utara, tahun 1987-1990.
• Anggota Dewan Pembina Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah/Golkar, tahun 1989 – 2001.
• Penasehat Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang), tahun 1989 - 2001.
• Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), tahun 1991-2001.
            Allahyarham AlMukarram Prof.Dr.H.Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya MA, MSc dilahirkan di Pangkalan Berandan, Sumatera Utara, pada hari Rabu tanggal 20 Juni 1917 / 30 Sya'ban 1335 H dari seorang ibu yang bernama Siti Dour Siregar. Ayah beliau bernama Sutan Sori Alam Harahap,seorang pegawai perminyakan (BPM) Pangkalan Berandan yang berasal dari kampung Sikarang-karang, Padang Sidempuan. Beliau dilahirkan dari keluarga Islamis religius. Nenek beliau dari pihak ayah dan nenek beliau dari pihak ibu adalah dua orang Syaikh Tarekat, yaitu Syaikh Yahya dari pihak ayah dan Syaikh Abdul Manan dari Pihak ibu. Keluarga ini selalu dikunjungi oleh para syaikh pada zaman itu. Tarekat Naqsyabandiyah yang dikembangkan beliau sangat berkembang pesat di dalam maupun luar negeri. Lebih dari 700 tempat zikir/surau/halkah telah didirikan, dalam tiap tahunnya dilakukan i'tikaf/suluk sebanyak 10 kali di berbagai tempat. Beliau sangat berkepentingan terhadap dunia pendidikan, untuk hal tersebut beliau mendirikan Taman Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi (Universitas Panca Budi)di Medan. Beliau wafat dan dimakamkan di Arco, Bogor pada hari Rabu tanggal 9 Mai 2001/15 Shafar 1422 H.
Riwayat Pendidikan
Secara Kronologis pendidikan yang ditempuh beliau adalah :
  1. H.I.S tahun 1924-1931 (tamat)
  2. MULO-B tahun 1931-1935 (tamat dengan voorklasse)
  3. AMS-B (Sekarang SMA 3 Yogyakarta) tahun 1935-1938 (tamat dengan bea siswa)
  4. Kuliah Umum Ketabiban tahun 1938-1940
  5. Kuliah Ilmu Jiwa,Amsterdam tahun 1940-1942 (tamat)
  6. Belajar Tasawuf/Sufi tahun 1947-1954 mendapat 3 buah ijazah
  7. Kuliah Indologie dan Bahasa Inggeris tahun 1951-1953
  8. M.O Bahasa Inggeris le gedeelte tahun 1953 di Bandung
  9. Lulus Ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika tahun 1962
  10. Doktor dalam Ilmu Filsafat Kerohanian dan Metafisika Tahun 1968
  11. Lulus Ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Ilmu Fisika-Kimia,tahun 1973
  12. Lulus Ujian Sarjana Lengkap (Drs) dalam Bahasa Inggeris tahun 1975
Sejarah belajar Tarekat/ Sufi
            Beliau mengenal tarekat sejak tahun 1943-1946 melalu seorang khalifah dari Syaikh Syahbuddin Aek Libung (Tapanuli Selatan). Pada waktu masa penjajahan Jepang, namun pada waktu itu beliau belum mendalaminya. Pada tahun 1947 beliau hadir di rumah murid Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, Bukit Tinggi (Sumatera Barat),pada waktu itu akan dimulai pelaksanaan dzikir/tawajuh yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad Hasyim.Menurut ketentuan seseorang tidak boleh mengikuti peramalan zikir/tawajuh sebelum ikut tarekat.Tetapi untuk beliau, Syaikh Muhammad Hasyim membolehkan ikut tawajuh/zikir dengan terlebih dahulu diajarkan secara singkat teknis pelaksanaan oleh khalifahnya. Ini merupakan hal yang langka bagi murid Tarekat Naqsyabandiah, yakni belum memasuki tarekat tetapi sudah dapat mengikuti tawajuh.
            Peristiwa langka lainnya yang dialami beliau adalah pada tahun 1949 saat agresi Belanda. Dimana beliau mengungsi ke pedalaman Tanjung Alam Batu Sangkar, Sumatera Barat.Disini beliau mendapati surau, lalu salat dan berzikir, sampai berhari-hari. Pada suatu ketika datanglah ke surau sekelompok orang untuk melakukan suluk/i'tikaf yang dipimpin oleh seorang khalifah dari seorang Syaikh yang termasyur di daerah tersebut yaitu Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam. Khalifah dari Syaikh Abdul Majid tersebut meminta beliau agar beliaulah yang memimpin suluk tersebut. Pada mulanya beliau menolak, tetapi setelah berkonsultasi selanjutnya beliau bersedia dengan syarat harus ada izin dari Syaikh Muhammad Hasyim,guru beliau. Lalu khalifah tersebut secara batin minta izin dahulu kepada Syaikh Muhammad Hasyim, setelah ada izin barulah beliau memimpin suluk. Jadi beliau belum pernah suluk, tetapi memimpin suluk.
Setelah kejadian itu,beliaupun menemui Syaikh Abdul Majid untuk meminta suluk. Kemudian mereka melakukan suluk bersama. Setelah suluk berakhir, beliau dianugerahi satu ijazah yang isinya sangat memberikan kemuliaan pada beliau. Beliau yang masih muda dan tidak memiliki apa-apa merasa tidak berhak menerima kemuliaan itu.Tetapi Syaikh Abdul Majid mengatakan hal itu telah digariskan dari atas, apalagi guru dari Syaikh Abdul Majid pernah berkata bahwa ia (Syaikh Abdul Majid) suatu saat akan memberikan ijazah kepada seseorang yang dicerdikkan Allah SWT. Selanjutnya beliau menjumpai Syaikh Muhammad Hasyim untuk mempertanggung jawabkan kegiatan yang diluar prosedur tersebut dan sekaligus memohon suluk. Hal ini diperkenankan oleh Syaikh Muhammad Hasyim dengan langsung membuka suluk. Pada tahun 1971, beliau bertemu pula dengan Syaikh Muhammad Said Bonjol. Setelah tawajuh, Syaikh Muhammad Said Bonjol memutuskan untuk memberikan kepada beliau sebuah mahkota yang dititipkan gurunya kepadanya dengan pesan agar diberikan suatu saat kepada seseorang yang pantas menerimanya. Puluhan tahun barulah hal tersebut terlaksana. SILSILAH Beliau adalah Mursyid Tarekat Naqsyabandiah dengan silsilah sebagai berikut :
1. Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a
2. Sayyidina Salman AlFarisi r.a
3. Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Siddiq r.a
4. Sayyidina Ja'far Ash Shadiq r.a
5. Al 'Arif Billah Sultanul Arifin Asysyaikh Thaifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan, yang dimasyhurkan namanya Syaikh Abu Yazid Al Bustami Quddusu Sirruhu (qs)
6. Al'Arif Billah Asysyaikh Abul Hasan Ali bin Abu Ja'far Al Kharqani qs
7. Al 'Arif Billah Asysyaikh Abu Ali AlFadhal bin Muhammad Aththusi Al Farimadi qs
8. Al 'Arif Billah Asysyaikh Abu Yaqub Yusuf AlHamadani bin Ayyub bin Yusuf bin AlHusain qs dengan nama lain Abu Ali Assamadani
9. Al 'Arif Billah Asysyaikh Abdul Khaliq AlFajduwani Ibnu Al Imam Abdul Jamil qs
10. Al 'Arif Billah Asysyaikh Ar Riwikari qs
11. Al 'Arif Billah Asysyaikh Mahmud AlInjiri Faghnawi qs
12. Al 'Arif billah Asysyaikh Ali ArRamitani yang dimasyhurkan namanya dengan Asysyaikh Azizan qs
13. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad Baba Assamasi qs
14. Al 'Arif Billah Asysyaikh Sayyid Amir Kulal bin sayyid Hamzah qs
15. Al 'Arif Billah Asysyaikh Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Asysyarif AlHusaini AlHasani AlUwaisi Al Bukhari qs, yang dimasyhurkan namanya Assyaikh Bahauddin Naqsyabandi qs
16. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad Al Bukhari AlKhawarizumi yang dimasyhurkan namanya dengan Asysyaikh Alauddin alAththar qs
17. Al 'Arif Billah Asysyaikh Ya'qub Al Jarkhi qs
18. Al 'Arif Billah Asysyaikh Nashiruddin Ubaidullah AlAhrar Assamarqandi bin Mahmud bin Shihabuddin qs
19. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad Azzahid qs
20. Al 'Arif Billah Asysyaikh Darwis Muhammad Samarqandi qs
21. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad AlKhawajaki AlAmkani Assamarqandi qs
22. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muayyiddin Muhammad AlBaqi Billah qs
23. Al 'Arif Billah Asysyaikh Ahmad AlFaruqi Assirhindi qs
24. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad Ma'shum qs
25. Al 'Arif Billah Asysyaikh Muhammad Saifuddin qs
26. Al 'Arif Billah Asysyaikh Asysyarif Nur Muhammad AlBadwani qs
27. Al 'Arif Billah Asysyaikh Syamsuddin Habibullah Jani Janani Muzhir Al 'Alawi qs
28. Al 'Arif Billah Asysyaikh Abdullah Addahlawi qs
29. Al 'Arif Billah Maulana Asysyaikh Dhiyauddin Khalid AlUtsmani AlKurdi qs
30. Al 'Arif Billah Sirajul Millah Waddin Asysyaikh Abdullah Affandi qs
31. Al 'Arif Billah Asysyaikh Sulaiman AlQarimi qs
32. Al 'Arif Billah Sayyidi Syaikh Sulaiman Azzuhdi qs
33. Al 'Arif Billah Sayyidi Syaikh Ali Ridha qs
34. Al 'Arif Billah Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim AlKhalidi qs
35. Al 'Arif Billah Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin AlKhalidi qs

Dialog Bung Karno dan Kadirun Yahya

Posted by tuban on November 30, 2006
Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Kadirun Yahya, anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).
Bung Karno (BK): Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.
Kadirun Yahya (KY): Apa soalnya Bapak Presiden?
BK: Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?
KY: Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.
BK: Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau, Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga.
Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali. Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?
Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.
KY: Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.
KY menulis dikertas:10/10 = 1.
BK menjawab: Ya.
KY: 10/100 = 1/10.
BK: Ya.
KY: 10/1000 = 1/100.
BK: Ya.
KY: 10/bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: 1000000/ bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.
BK: Ya.
KY: Dosa dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.
BK: Ya.
KY: Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga = tak berhingga. Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Mahaakbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.
BK diam sejenak lalu bertanya: Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?
KY: Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.
BK berdiri dan berucap: Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous. Kemudian aia merangkul KY dan berkata: Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.
            Beberapa tahun kemudian, Bung karno meninggal dunia. Resensi-resensi harian-harian dan majalah-majalah ibukota yang mengkover kepergian beliau, selalu memberitakan bahwa beliau dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya.
Profil Al Mukarram Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya QS part 3
            Pada tahun 1942, Al Mukarram Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menyelesaikan pendidikan tinggi di negeri Belanda. Beliau kembali ke tanah air dan mempelajari ilmu tasawwuf dari para guru besar ahli sufi. Langkah pengabdian agung Beliau dalam Thareqat Naqshabandiyah Al Khalidiyah pun mulai tercatat dengan tinta emas. Beliau mengenal Tarekat pada tahun 1943 melalui seorang khalifah dari Syaikh Syahbuddin Aek Libung Tapanuli Selatan. Pada tahun 1947, Beliau hadir di rumah murid Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan di Bukittinggi Sumatera Barat. Saat itu akan dimulai pelaksanaan tawajuh yang dipimpin oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan sangat disiplin dalam melaksanakan ketentuan tawajuh, dan karenanya siapa saja yang belum masuk thareqat disuruh keluar. Tetapi pada waktu tawajuh hendak dilaksanakan, Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan melihat Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, dan membolehkan beliau ikut tawajuh dengan diajarkan kaifiat singkat oleh khalifahnya pada saat itu juga. Tahun 1949, saat agresi Belanda, Beliau mengungsi ke pedalaman Tanjung Alam Batu Sangkar Sumatera Barat dan bertemu dengan sekelompok orang yang akan melaksanakan i’tikaf atau suluk, yang dipimpin oleh seorang khalifah dari Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam. Singkat cerita,khalifah tersebut meminta Beliau memimpin i’tikaf. Pada mulanya Beliau menolak, tetapi setelah berkonsultasi selanjutnya Beliau bersedia, dengan syarat ada izin dari Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Lalu khalifah tersebut minta izin dulu kepada Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Setelah didapatkan izin barulah Beliau memimpin i’tikaf tersebut. Ketika itu, Beliau belum pernah suluk, namun sudah mensulukkan orang. Setelah peristiwa itu, Beliau menemui Sayyidi Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam untuk minta suluk. Kemudian Beliau dan Syaikh Abdul Majid melaksanakan suluk bersama. Setelah suluk berakhir, Beliau dianugerahi satu ijazah yang isinya sangat memberikan kemuliaan pada Beliau. Sebagai seorang yang masih muda dan tidak memiliki apa-apa, Beliau merasa tidak berhak menerima kemuliaan itu.Tetapi Syaikh Abdul Majid mengatakan bahwa hal itu telah digariskan dari atas. Apalagi gurunya pernah berkata bahwa ia akan memberikan ijazah kepada seorang yang dicerdikkan Allah SWT. Menurut menantu sekaligus wakil dan penjaga suluk yaitu khalifah H. Imam Ramali, Syaikh Abdul Majid pernah berkata bahwa Beliau adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk dan akan dikenal sebagai pembawa Thareqat Naqsyabandiyah. Selanjutnya Beliau menjumpai Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan untuk mempertanggungjawabkan kegiatan beliau yang “di luar prosedur” tersebut dan sekaligus memohon suluk. Hal ini diperkenankan oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan dengan langsung membuka suluk.
            Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, sangat erat hatinya dengan guru Beliau, Sayyidi Syaikh M.Hasyim Buayan. Selama guru Beliau hidup, setiap minggu beliau ziarah kepadanya (tahun 1950 – 1954). Setelah Beliau wafat, ziarah tetap dilanjutkan antara satu sampai dengan tiga kali dalam setahun. Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan memberikan pujian tinggi kepada Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, antara lain dari segi ketakwaan, kualitas pribadi dan kemampuan melaksanakan suluk sesuai dengan ketentuan akidah dan syariat Islam.
Dalam ijazah Beliau dicantumkan kata-kata "Guru dari orang-orang cerdik pandai." Beliau diberi izin untuk melaksanakan dan menyesuaikan segala ketentuan Tarekat Naqsyabandiyah dengan kondisi zaman, sebab semua hakikat ilmu telah dilimpahkan gurunya kepada Beliau. Beliau adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk sesuai dengan pesan guru Beliau yang disampaikan kepada menantu serta penjaga suluk yaitu khalifah Anwar Rangkayo Sati.
Sebagaimana pada awalnya begitu pulalah pada akhirnya. Begitulah pada suatu saat kemudian Tarekat Naqsyabandiyah dipaparkan secara keseluruhan oleh Syaikh Syahbuddin kepada Beliau. Syaikh Syahbuddin pernah berkata kepada anak kandungnya yang menjaga suluk yaitu Syaikh Husin, bahwa yang benar-benar dapat menegakkan suluk adalah Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh  Kadirun Yahya.
            Pada tahun 1971, Beliau bertemu dengan Syaikh Mohammad Said Bonjol. Setelah Tawajuh, Syaikh Mohammad Said memutuskan untuk memberikan sebuah Mahkota yang dititipkan gurunya, dengan pesan agar diberikan kepada seseorang yang pantas. Puluhan tahun berlalu, barulah “orang yang pantas” tersebut ditemukan oleh Syaikh Mohammad Said, yaitu Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Pantaslah kalau guru-guru Beliau para wali Allah SWT menyampaikan pujian dan mengabarkan di masa lalu bahwa Beliau mendapatkan pujian tinggi dalam pelaksanaan Akidah Islam, guru dari cerdik pandai dan ahli mengobat, mampu melaksanakan suluk secara paralel di seantero negeri dan mancanegara. Perjalanan keguruan Beliau adalah catatan tinta emas dalam lembaran sejarah.(RHAY)
Riwayat hidup Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc berikut menurut saya sangat lengkap yang di tulis oleh Anwar Rangkayo Sati saksi hidup dan merupakan murid sekaligus menantu dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi dan di kemudian hari  Beliau juga  mengakui S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc sebagai guru nya . Ayahanda Guru merupakan panggilan dari murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Beliau dan Nenek Guru adalah panggilan murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi. Tulisan ini di tulis pada tanggal 08 Desember 1986, tentu saja semasa Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc  masih hidup. Beliau berlindung kehadirat Allah pada tanggal 9 Mei 2001 dan di makam kan di Surau Qutubul Amin Arco, Jawa Barat.

MANAQIB SYAIKH AS'AD SYAMSUL ARIFIN SITUBONDO


 KIAI AS'AD SYAMSUL ARIFIN
MURSYID QODIRIYYAH WANNAQSYABANDIYYAH


Kini, Kiai As'ad sudah lama berpulang ke rahmatullah. Namun, warisan keilmuan dan semangat juangnya masih tetap membara. Ribuan santrinya telah menyebar di berbagai nusantara. Jelas, kenyataan itu menunjukkan kapasitas keilmuan dan kekeramatannya. Dawuh atau wejangan Kiai As'ad, selalu melekat dan diikuti para santri dan pecintanya. Sekali beliau berkata, untaian kalimatnya begitu membekas dalam hati.
Pernah suatu hari, Ustadz Basori Alwi sengaja diundang oleh Kiai As'ad untuk membacakan al-Quran di hadapan ribuan jamaah pengajian rutin yang diasuh oleh Kiai As'ad. Usai Ustadz Basori -yang kini menjadi pengasuh Pesantren Ilmu al-Qur'an (PIQ) Singosari Malang- melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, Kiai As'ad memintanya untuk memberikan sedikit tawsiyah di hadapan para hadirin.
Tak bisa menolak, akhirnya Ustadz Basori pun menyampaikan beberapa pelajaran terkait dengan pentingnya membaca al-Quran secara bertajwid dan perlunya mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu al-Quran.
Setelah kurang lebih 30 menit berceramah, Kiai Basori menutup pidatonya dengan doa singkat. Pada sesi berikutnya, Kiai As'ad lalu tampil sebagai penceramah. Dalam muqaddimah pidatonya yang disampaikan dalam bahasa Madura, Kiai As'ad berkata:
"Tan tretan sedejeh! Engak gi, Kiai Basori neka, guruna be'en kabbih. Inga' le, molai setiyah, Kiai Basori nika, guruna be'en kabbih".
"Saudara-saudara! Ingat, Kiai Basori ini adalah guru kalian semua. Saya peringatkan lagi, sejak hari ini, beliau ini menjadi guru kalian semua".
Sungguh luar biasa, akhlaq Kiai As'ad terhadap ilmu. Kiai kharismatik itu ingin mengajarkan betapa seseorang yang telah berjasa mengajarkan sebuah ilmu, meski hanya satu huruf, maka orang tersebut adalah gurunya. Pernyataan Kiai As'ad di atas, mengingatkan pada statemen Sayyidina Ali bin Abu Thalib, "Ana abdu man 'allamani wa law harfan wahidan". Artinya, "Aku adalah hamba setiap orang yang mengajariku meski hanya satu huruf".
Setelah acara pengajian itu bubar, Kiai Basori pun pulang ke rumahnya di Singosari, Malang. Saat itu, beliau memang telah rutin mengajar al-Quran pulang-pergi antara Singosari-Situbondo. Karena belum punya kendaraan pribadi dan bahkan bus angkutan umum pun masih jarang ada, maka terkadang Kiai Basori harus "ngandol" alias numpang truk barang. Sebuah perjuangan demi al-Quran.
Kembali ke kisah tadi. Ketika Kiai Basori naik bus kota di Situbondo, sepulang dari pengajian tadi, kontan saja para penumpang bus mengenali sosok penumpang itu yang tak lain adalah seseorang yang baru saja didaulat oleh Kiai As'ad sebagai guru mereka semua.
Menyadari hal itu, syahdan para penumpang bus berebut untuk salaman dengan Kiai Basori. Jelas hal ini membuat kiai muda itu nervous. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata setiap penumpang itu menyalaminya dengan uang seadanya. Ada memberi salam tempel sebesar 10.000, 5.000, hingga 1.000 rupiah.
Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Madura, bila bersalaman dengan kiai, sebagai bentuk ta'dzim terhadap guru adalah memberi salam tempel berupa uang, walaupun mungkin nilainya tidak besar. Bahkan, beberapa orang Madura pantang bersalaman dengan seorang ulama dengan hanya tangan kosong. Mereka menilai salam tempel kosongan adalah su'ul adab dan tidak tahu hormat terhadap ahli ilmu.
Sungguh luar biasa, bentuk penghormatan para jamaah dan santri Kiai As'ad yang notabene-nya adalah orang Madura. Sekali mereka di-dekrit oleh Kiai As'ad bahwa Kiai Basori adalah juga guru mereka yang harus dihormati, maka sejak itu pula mereka tunduk dan memperlakukan Kiai Basori layaknya guru yang harus dimuliakan dalam segala hal, termasuk juga mensalaminya.
Hingga kini, di setiap acara haul Kiai As'ad, Kiai Basori selalu diundang untuk membacakan surah Yasin atau ayat-ayat al-Quran. Kiai Fawaid, putra Kiai As'ad dan juga penerusnya, sama sekali tidak mau menggantikan posisi Kiai Basori dalam membacakan ayat-ayat suci al-Quran di acara haul Kiai As'ad. Mengapa? Salah satu alasannya karena ayahanda beliau telah mendaulat Kiai Basori sebagai Sang Guru Quran.
Sekali seseorang mengajari kita tentang ilmu, meski satu huruf saja, maka sejak itu pula dialah guru kita. Inilah yang dipegangi Kiai As'ad Syamsul Arifin persis seperti prinsip Saydina Ali bin Abu Thalib, Sang Pintu Ilmu dari Madinatul Ilmi.